Teruo Nakamura, Dari Saksi Perang Dunia II Hingga Dibuatkan Monumen Sejarah

Pulau Morotai menjadi primadona bagi para pelancong yang mendambakan wisata pantai sekaligus wisata sejarah. Pulau morotai yang merupakan Kawasan Ekonomi Khusus yang dikelola oleh PT. Jababeka Morotai ini seperti tak pernah habisnya menceritakan berbagai kisah dari Perang Dunia II. Salah satunya adalah kisah prajurit Jepang bernama Teruo Nakamura.

Nama Teruo Nakamura pastinya mungkin masih asing di telinga kamu. Namun, siapa sangka pria berpangkat prajurit ini bisa sampai dijadikan monumen bersejarah di Morotai. Apa sebenarnya terjadinya?

Hal itu berawal dari penemuan Teruo Nakamura laporan seorang warga Desa Pilowo, Pulau Morotai bernama Luther Goge pada tahun 1974. Nakamura sendiri diketahui sudah tinggal  untuk bersembunyi di tengah hutan selama 30 tahun.

Tertinggalnya prajurit yang bertahan di Pulau Morotai ini ada hubungannya dengan status pulau tersebut di masa Perang Dunia II. Di mana pasukan sekutu berhasil merebut pulau strategis ini dari tangan Jepang pada tahun 1944.  

Menurut veteran dari Legiun Veteran Republik Indonesia (LVRI) sekaligus saksi sejarah kedatangan sekutu ke Pulau Morotai Muhammad Yaman, pada awalnya Jepang menguasai pulau itu dengan kekuatan sebanyak satu batalyon atau sekitar 1000 orang personel.

Namun, Pasukan Sekutu yang terdiri dari Amerika Serikat dan Australia mengirimkan sembilan divisi atau sekitar 90 ribu pasukan untuk merebut pulau itu dari Jepang pada 1944. Pasukan Jepang kocar-kacir, termasuk Nakamura yang kemudian bersembunyi di pulau itu selama 30 tahun.

Nakamura sendiri sebenarnya berasal dari Taiwan. Ia bisa menjadi prajurit Jepang karena kemungkinan asalnya dari suku Amis di Taiwan yang saat itu menjadi koloni Jepang. Lahir pada tahun 1919, Teruo Nakamura kena wajib militer dan dimasukkan ke dalam sebuah Unit Sukarela Takasago dari Angkatan Darat Kekaisaran Jepang pada bulan November 1943. 

Ia ditempatkan di Pulau Morotai di Indonesia tak lama sebelum pulau tersebut ditaklukkan oleh Sekutu pada bulan September 1944 dalam Pertempuran Morotai. Ia pun sudah dinyatakan tewas pada bulan Maret 1945.

Setelah pulau itu direbut, Nakamura tinggal bersama sejumlah prajurit Jepang lain yang tidak mau menyerah di pulau tersebut hingga dekade 1950-an, walau juga beberapa kali hidup sendirian selama jangka waktu cukup lama. 

Pada tahun 1956, ia kelihatannya berkeputusan untuk tak mengikatkan diri lagi dengan para prajurit lain yang tak mau menyerah di pulau tersebut, dan mulai membangun sebuah kamp kecil miliknya sendiri, yang terdiri dari sebuah pondok kecil di dalam ladang berpagar seluas 20 kali 30 meter. 

Ketika ditanyakan alasannya meninggalkan para prajurit yang lain, Nakamura mengklaim mereka mencoba membunuh dirinya. Tapi, klaim ini disangkal oleh tiga prajurit lain dari kelompoknya, yang telah ditemukan pada dekade 1950-an.

Nakamura adalah prajurit Jepang Perang Dunia II  terakhir yang keluar dari persembunyiannya di berbagai negara. Pada umumnya, prajurit Jepang yang bersembunyi itu tak mau menyerah oleh pihak sekutu. 

Sebelum Nakamura, ada prajurit Jepang veteran Perang Dunia Kedua yang bertahan. Yakni, Letnan Hiroo Onoda yang bertahan sejak Desember 1944 hingga Maret 1974 di Pulau Lubang, Filipina.

Teruo Nakamura menjadi salah satu kisah sejarah yang sangat menarik di Pulau Morotai. Oleh karena itu Pemerintah Daerah Kabupaten Pulau Morotai mendirikan Monumen Teruo Nakamura untuk mengenang sejarah dimana Pulau Morotai dulu memiliki peran strategis sebagai salah satu basis pada Perang Dunia II. Tempat ini juga menarik para pelancong untuk melakukan wisata sejarah.

 

Monumen Teruo Nakamura terletak di Desa Dehegila. Wisatawan bisa menelusuri jejak pelarian Nakamura dengan mengunjungi monumen tersebut.

Patung ini berlokasi di tempat Mr Teruo Nakamura ditemukan oleh penduduk desa 30 tahun setelah perang 2,” kata Baskoro dalam ulasanya di sebuah laman pariwisata.

“Monumen ini ada di tengah jalan. Seorang tentara Jepang yang bersembunyi di hutan Morotai dan tidak sadar bahwa perang sudah berakhir hingga dia ditemukan warga lokal,” ungkap Yunizar, Manager D Aloha Resort PT. Jababeka Morotai Tbk, yang suka menjadi tour guide bagi para tamunya 

“Monumen ini menceritakan tentang seorang Jepang yang hidup di pedalaman hutan di Morotai. Nakamura tidak menyadari bahwa perang telah usai, dan dia hidup menyendiri di hutan, sampai akhirnya pihak pemerintah Jepang menjemputnya,” ungkap Nizar.

Namun, bila ingin merasakan sensasi lebih, wisatawan bisa berkunjung ke air terjun Nakamura. Lokasinya masih berada di Desa Deheglie, tapi di tengah hutan. Di sanalah para wisatawan bisa membayangkan perjuangan Nakamura bertahan dan menjalani hidup.

Sementara, tempat istirahat Nakamura ada di batu alam yang bernama Kokota Rifer yang berada di atas air terjun yang kini dinamai Nakamura tersebut. Menurut penuturan warga, dahulu Nakamura sering membakar udang dan ikan di tempat tersebut. Kokota Rifer adalah bukti dahsyatnya serangan tentara Sekutu di Morotai.